VIVA Merupakan Perusahaan Yang Bergerak Di Bidang Konten

VIVA Merupakan Perusahaan Yang Bergerak Di Bidang Konten – PT Visi Alat Asia Tbk ataupun diucap VIVA (IDX: VIVA) merupakan golongan upaya alat kepunyaan Bakrie Group yang dibuat semenjak bertepatan pada 8 November 2004. Golongan upaya ini mempunyai stasiun tv antv serta tvOne dan gerbang informasi online VIVA.co.id.

VIVA Merupakan Perusahaan Yang Bergerak Di Bidang Konten

3-beards.com – PT Visi Alat Asia awal mulanya dibuat dengan julukan PT Sarwa Kolina, dengan dipunyai oleh Raden Deny Yulianto serta Andi Pravidia Saliman. Pada 21 Juli 2006, owner saham lama alihkan kepemilikannya pada PT Capital Managers Asia/ CMA (yang terafiliasi dengan Bakrie Group) sebesar 99%, serta semenjak itu pula namanya berganti jadi PT Visi Alat Asia.

Baca Juga : Konsep Promosi Secara Mendalam Untuk Pengembangan Acara

Pada tahun 2007- 2008, luang masuk pemegang saham lain ialah PT Recapital Advisors (kepunyaan Sandiaga Uno serta Rosan Roeslani) sebesar 10% serta Erick Thohir sebesar 1, 3%, tetapi setelah itu kembali dijual pada PT CMA pada medio 2008. Semenjak pada bertepatan pada 21 November 2011, Visi Alat Asia mencatatkan sahamnya di Pasar uang Dampak Indonesia. IPO dicoba dengan harga ijab Rp 280/ saham, serta melepas 14, 2% kepemilikannya ke khalayak.

Bagian usaha

Bidang usaha awal VIVA diawali pada tahun 2007, kala keluarga Bakrie melaksanakan pemerolehan kepada Lativi yang dipunyai oleh Abdul Latief. Dalam pemerolehan stasiun tv yang setelah itu bertukar julukan jadi tvOne ini, 49% dipahami langsung VIVA, 31% oleh anak usahanya ialah PT Redal Sarwa serta lebihnya oleh pihak lain. Aransemen kepemilikan saham oleh sebagian pihak ini berjalan sampai tahun 2010, kala kesimpulannya 99% saham tvOne jadi kepunyaan VIVA seluruhnya, hingga dikala ini.

Pada tahun 2008, bidang usaha VIVA diperkuat dengan pengambilalihan PT Intermedia Capital yang pada tahun berikutnya( 2009) jadi owner 99% saham antv, serta di akhir tahun itu pula dikeluarkan web informasi vivanews. com.

Hingga dikala ini, kedua stasiun tv serta gerbang informasi sedang jadi penopang penting bidang usaha VIVA, meski luang pula berusaha masuk ke pabrik tv berlangganan dengan merk viva+( dulu direncanakan dengan julukan B- TV) pada 2014, serta pula sempat berusaha membuat stasiun tv berolahraga bernama SportOne.

Bagi informasi finansial 2020, selanjutnya ini anak upaya dari PT Visi Alat Asia Tbk:

  • PT Intermedia Capital Tbk( MDIA)
  • PT Alam Andalas Tv( antv)
  • PT Alam Andalas Tv Palembang serta Bangka Belitung
  • PT Alam Andalas Tv Makassar serta Palu
  • PT Alam Andalas Tv Yogyakarta serta Ambon
  • PT Alam Andalas Tv Bandung serta Bengkulu
  • PT Alam Andalas Tv Pekanbaru serta Papua
  • PT Alam Andalas Tv Banjarmasin serta Padang
  • PT Alam Andalas Tv Bali serta Mataram
  • PT Alam Andalas Tv Area serta Batam
  • PT Alam Andalas Tv Lampung serta Kendari
  • PT Alam Andalas Tv Semarang serta Palangkaraya
  • PT Alam Andalas Tv Manado serta Gorontalo
  • PT Alam Andalas Tv Surabaya serta Samarinda
  • PT Lativi Alat Buatan( tvOne)
  • PT Lativi Alat Buatan Semarang- Padang
  • PT Lativi Alat Buatan Area serta Pekanbaru
  • PT Lativi Alat Buatan Manado serta Samarinda
  • PT Lativi Alat Buatan Yogyakarta serta Lampung
  • PT Lativi Alat Buatan Makassar serta Ambon
  • PT Lativi Alat Buatan Banjarmasin serta Bengkulu
  • PT Lativi Alat Buatan Palembang serta Palangkaraya
  • PT Lativi Alat Buatan Kendari serta Pontianak
  • PT Lativi Alat Buatan Bandung
  • PT Lativi Alat Buatan Lombok serta Palu
  • PT Lativi Alat Buatan Bali serta Kepulauan Riau
  • PT Lativi Alat Buatan Surabaya serta Jambi

Visi Alat Asia Luncurkan 2 Industri Terkini di Aspek Digital serta Konten

PT Visi Alat Asia Tbk( VIVA) hendak meluncurkan 2 industri terkini, tiap- tiap beranjak di aspek pengurusan digital serta konten. Kedua industri itu diharapkan dapat beroperasional pada semester I- 2020.

” Aku bertanggung jawab rawat itu. Mudah- mudahan 2 industri itu dapat meluncur, bagus yang bidang usaha digital serta konten pada semester ini, tahun ini,” cakap Ketua Penting PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) Arief Yahya berakhir RUPSLB Visi Alat Asia, di Jakarta, Senin( 15/ 3/ 2021).

Mantan Menteri Pariwisata serta mantan Ketua Penting PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk itu berkata, buat bertahan di masa digital dikala ini, tidak terdapat metode lain yang ditempuh, melainkan melaksanakan alih bentuk digital. Digital bidang usaha sendiri diharapkan dapat membagikan valuasi 15%- 20% kepada kemampuan Visi Alat Asia yang tidak lain ialah benih upaya Intermedia Capital. Tetapi, grupnya sedang sungkan mengatakan dengan cara perinci terpaut angka investasinya.

” Investasinya belum kita jumlah, tetapi hendak kita mulai dengan partnership dahulu. Kita mau partnership waktu jauh, ia teknologi, kita pasarnya. Jika telah miliki partnership dengan digital program, hingga kita hendak minimun buat investasinya,” cakap Arief.

Ada pula, konten yang hendak dijalani esok terdiri dari 3 fokus penting, ialah berolahraga, agama, serta pariwisata. Perseroan pula hendak mengakomodasi para influencer buat pengembangan itu.

Kepala negara Ketua Visi Alat Asia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, 5- 6 tahun ke depan perseroan hendak menganggarkan berbelanja modal( capital expenditure/ capex) sebesar Rp 1 triliun. Anggaran itu dikhususkan buat pengembangan konten serta digital.” Nilai itu bagus buat jadi modal, buat kegiatan serupa dengan influencer serta digital, kerja sama mulanya hendak untuk dampak lebih besar,” pungkasnya.

Lego 39% Saham

Sedangkan itu, pemegang saham bersumber pada hasil Rapat Biasa Pemegang Saham Luar Lazim( RUPSLB) Visi Alat Asia sudah membenarkan konsep perseroan buat melaksanakan pemasaran 39% saham di Intermedia Capital, industri benih stasiun tv ANTV.

Besaran saham yang dilepas emiten alat Tim Bakrie itu sebanding dengan 15, 29 miliyar saham pada Reliance Capital International Limited( RCIL), pihak yang disetujui kreditur buat melakukan jual beli saham itu. Pemasaran saham MDIA itu dicoba dengan angka US$ 171, 8 juta, sebanding dengan Rp 2, 43 triliun ataupun Rp 158 per saham.“ Pemasaran 39% ataupun Rp 2, 4 triliun hendak terselenggara bulan ini pula,” cakap Anindya.

Manajemen VIVA menarangkan kalau bisnis pemasaran saham MDIA ialah bagian dari desain penanganan ataupun pelunasan semua pinjaman Tim VIVA bersumber pada Debt Settlement Agreement( DSA) yang ditandatangani pada bertepatan pada 22 Desember 2020 yang kemudian. Di dalam DSA, Tim VIVA serta para kreditur sudah meluluskan 4 perihal selaku selanjutnya.

Awal, posisi akhir keseluruhan pinjaman utama VIVA yang terutang sebesar US$ 239, 76 juta yang terdiri dari pinjaman utama bersumber pada Baru Facility Agreement sebesar US$ 78, 37 juta serta pinjaman utama bersumber pada Tua Facility Agreement sebesar US$ 161, 39 juta.

Kedua, beberapa pinjaman Tua Facility yang jadi tanggung jawab ANTV hendak dituntaskan lewat sarana refinancing yang hendak didapat ANTV dari perbankan nasional sebesar Rp 960 miliyar ataupun sebanding dengan US$ 67, 94 juta (Cash Settlement) dengan anggapan kurs ubah US$ 1 Rp 14. 130, kurs tengah Bank Indonesia per 10 Desember 2020.

Baca Juga : Macam-Macam Jenis Layanan Manajemen Acara

“ Bank lokal yang hendak refinancing, hendak kita sampaikan bulan Maret. Bank lokal sebab kita ingin cari Rupiah beri uang Dolar. Rupiah masuk ide sebab pemasukan kita rupiah. Sepanjang ini kita jomplang. Kita dikala itu memerlukan duit besar serta dikala itu yang ada dolar,” nyata ia.

Ketiga, keseluruhan pinjaman utama sehabis dikurangi Cash Settlement sebesar US$ 171, 82 juta ataupun sebanding dengan Rp 2, 43 triliun hendak dibayarkan lewat bisnis pemasaran saham MDIA. Keempat, semua bunga serta biaya- biaya yang sudah mencuat serta belum dibayarkan sehubungan dengan Tua Facility serta Baru Facility dihapuskan.

Manajemen Visi Alat Asia, hubung Anindya, membenarkan kalau dengan Cash Settlement serta diselesaikannya bisnis pemasaran saham Intermedia Capital hendak menimbulkan pinjaman perseroan jadi beres dengan senantiasa mencermati determinasi hal harga pemasaran minimun saham subjek.

” Dengan diselesaikannya bisnis pemasaran saham ini, VIVA hendak jadi perseroan leluasa hutang. Dengan tingkat pinjaman di CATV yang amat sustainable, Tim VIVA jadi terus menjadi gesit beranjak meningkatkan bidang usaha alat digital melalui entitas anak industri serta portofolio bidang usaha digital yang lain,” ekstra Anindya.